Selasa, 01 Mei 2012

Action speaks louder than words?

Kebanyakan orang menganggap, ketika kita menyayangi seseorang , mencintai seseorang, tidak perlu di ungkapkan dengan kata-kata , karena kata-kata tidak mampu menjelaskan perasaan itu. Cukup dengan perbuatan dan perhatian kita kepadanya , maka itu sudah lebih dari cukup. 



Benarkah ? 

Seberapa seringkah kita merasa sangat cukup dan sangat puas ketika pasangan yang telah menjadi kekasih selama lebih dari satu tahun misalnya, nggak pernah mengucapkan kata 'Aku cinta padamu' , tapi dalam setahun dia bersedia untuk merawat kita ketika sakit, merasa bersalah ketika dia melakukan kesalahan, atau mungkin selalu ada ketika kita membutuhkannya? 



Seberapa seringkah kita merasa sangat cukup dan puas dengan sahabat kita ketika meskipun telah bersahabat selama lebih dari 3 tahun, dia nggak pernah mengatakan, 'Aku sayang padamu, sahabat', tapi ketika kita bersedih dia adalah orang yang rela nggak tidur untuk mendengarkan curhatan kita, ketika kita merasa dinomorduakan dengan pacarnya dia justru lebih memilih kita daripada pacarnya , atau ketika dia mengalami hal-hal bahagia dan sedih kita adalah orang pertama yang tahu keadaannya ? 



Atau seberapa banyak yang justru sebegitu pun perbuatan pasangan atau sahabat , tetap ingin sekali saja setidaknya, mereka menyatakan betapa sayangnya mereka kepada kita ? Ada ? 

Sebenarnya, aku juga bingung, benarkah action speaks louder than words? 
Terkadang, ketika melihat sosok Mama, ucapan ini seolah menjelma dengan sangat baik di benakku. Dia melakukan semuanya, menjaga dan merawat kita bahkan sebelum dia mengenal seperti apa rupa kita, seperti apa wujud kita, dia membawa kita kemana-mana hampir selama 9 bulan 10 hari, dia merawat kita ketika lahir, memegang kotoran kita, siap siaga memberi kita susu ketika menangis, memilih sekolah terbaik, menyekolahkan kita, menyediakan semua kebutuhan kita. 
Tapi, nggak jarang juga Mama menyatakan semua perbuatannya itu dalam wujud nyata, dalam perkataannya. Misalnya, ketika dia menyisir rambut ku, dia akan mengatakan ,'mama sayang sekali sama kamu', dan kita hanya bisa tersenyum senang , dia mengatakannya, dan itu seolah-olah membuat kita menjadi memahami bahwa dia melakukan semuanya itu karena sayang pada kita, bukan karena hal itu adalah kewajibannya sebagai seorang ibu . Kadang, ketika dia sedang bersedih, entah karena mungkin penghasilan nggak bisa memenuhi semua kebutuhan kita, atau hubungannya yang tidak baik dengan Ayah, dia akan menatap kepada kita, menyembunyikan kerisauannya, mulai bertanya, 'aku sangat menyayangimu, nak. Kau sayang ibu?' Bahkan Mama pun kadang masih menanyakan apakah kita menyayanginya apa tidak! Dia yang memberi kita curahan kasih sayang, yang bahkan nggak kepikir apa alasan kita membencinya, bahkan masih menanyakan hal itu .. 




Yaaa, meskipun begitu , masih banyak orang yang nggak mampu mengatakan betapa sayangnya dia kepada orang lain. Bukan karena nggak sayang, namun mungkin karena perasaan yang nggak nyaman ketika harus mengucapkan kata-kata yang penuh perasaan itu seraya menatap matanya selama beberapa detik, memperhatikan ekspresinya, dan diperhatikan olehnya membuat banyak orang mengumpet dibalik kata-kata 'action speaks louder than words' :) 

Tidak salah memang, masa sih seseorang nggak bisa menilai seberapa besarnya kasih sayang yang telah ditunjukkan kepadanya? Kenapa sih semua harus dikatakan? Kata-kata bisa menipu bukan? Ya, dan manusia juga mampu memanipulasi perbuatannya bukan? :D 

Hoho, aku bukannya mau buat bingung.. Enggak kok, hanya aja, bahwa sesungguhnya nggak ada yang 'speaks' lebih keras dari yang lainnya.. Karena semua manusia nggak mempunyai 'kadar' penilaian dan kesensitifan yang sama . Ada yang mampu mensyukuri dan menarik kesimpulan dari perbuatan orang disekelilingnya apakah itu sayang atau tidak , namun ada yang menginginkan pengucapan sayang itu sendiri. Bahwa pada kenyataannya, ketika kita mendengar seseorang mengucapkan betapa sayangnya dia kepada kita, bukankah kita merasa bahagia? Sama sekali nggak perlu malu mengucapkan kata-kata sayang kok . 

Pada kesimpulannya adalah : 
 Mudheng nggak ? nggak ? sama dooong :D 

Hahaha, pada intinya, nggak ada yang lebih besar dan lebih baik antara action dan words, keduanya saling melengkapi, keduanya merupakan penjelasan dan menjelaskan satu sama lain ... Kenapa berbuat banyak untuknya? karena kau sayang padanya. Jelaskanlah itu. Jelaskan dengan semua perbuatanmu, jelaskan dengan perkataanmu. 

Bahkan, Yesus saja melakukan keduanya. Berapa kali Dia mengatakan bahwa Allah sangat menyayangi umatNya? Dan perbuatan kasih apa yang kurang ketika Yesus rela mati di kayu salib? 

Ayo, mulai sekarang jangan malu ungkapkan sayang pada mereka yang kalian sayangi , selagi masih ada kesempatan untuk melakukannya :) 

*Bunga*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar