Minggu, 17 Juni 2012

Transgender, berbeda?


Transgender.
Ketika kita mendengar tentang kata transgender, apakah yang muncul dalam benak kita? Banci? Waria? Bencong? Aneh? Pernakah kita berpikir atau mendengar bagaimana sebenarnya mereka? Bagaimana sisi psikologis mereka sendiri menghadapi kenyataan bahwa mereka berbeda? Pernahkah kita memandang mereka bukan hanya sebagai orang yang berbeda tapi juga menyadari bahwa mereka sama dengan kita?

Nah , untuk itulah saya dan beberapa teman lain pergi ke Solo untuk belajar dan mengenali tentang transgender dalam Seminar Mengenali Sisi Lain Transgender yang diadakan oleh jurusan Psikologi UNS pada 12 Mei 2012 kemarin di Gedung Serbaguna Fakultas Hukum UNS, Solo.  Seminar kali ini menghadirkan narasumber tansgender dari HIWASO (Himpunan Waria Solo) , yaitu Mama Londoh (founder Hiwaso), Mbak Cyntia , Mbak Hera, dan Mbak Gita.  Narasumber adalah Dr.Istar (Dosen FK UNS) dan Profesor  Koentjoro S.Psi, M.Psi (Dosen Fakultas Psikologi UGM).  

Menurut Profesor Koentjoro , mereka yang melakukan transgender ini didasari oleh beberapa faktor, dan yang paling menunjang perilaku ini adalah keluarga. Mereka yang tinggal dalam keluarga yang sangat didominasi oleh ibu, mereka yang diperlakukan seperti wanita sedari kecil, mereka yang menjadi satu-satunya lelaki/wanita di antara saudara kandungnya, dan mereka yang menjadi anak tunggal atau anak bungsu di keluarganya rentan melakukan transgender. Hal ini dibenarkan oleh keempat pelaku transgender , mereka ada produk dari hasil perlakuan yang salah sedari kecil dan memiliki kelekatan yang sangat dengan sosok ibu karena mereka merupakan anak tunggal ataupun anak bungsu.

Profesor Koentjoro mengatakan lagi bahwa mereka yang melakukan transgender bukan berarti mereka mengalami perubahan bentuk dari kromosom, mereka hanya mengubah bentuk fisik, bukan kromosom, hal ini berbeda dengan mereka yang mengalami kesalahan genetik dari lahir, yaitu mereka yang memiliki kromosom XXY atau XYY , sehingga memilki kelamin ganda. Hal ini diamini oleh Dr.Istar yang mengatakan bahwa sampai saat ini tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa seseorang yang melakukan transgender mengalami perubahan bentuk kromosom.

Sebenarnya, selain keluarga apalagi yang dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan transgender? Lingkungan sosial dan gaya hidup menjadi jawabannya. Seperti yang diakui oleh Mbak Cyntia, dia menjelaskan bahwa sedari kecil dia menyadari bahwa dirinya berbeda, dia selalu ingin tampil seperti wanita namun fisiknya adalah lelaki, ketika remaja dia mulai menyukai tetangga lelakinya dan mulai menerima bahwa dia adalah jiwa wanita yang terperangkap dalam tubuh lelaki.
Apa itu jiiwa wanita yang terperangkap dalam tubuh lelaki? Dr.Koentjoro menjelaskan bahwa menurut Carl Gustave Jung, manusia itu anima-animus, yaitu pada dasarnya setiap manusia itu memiliki jiwa wanita dan jiwa lelaki di dalam dirinya, tetapi jiwa yang mendominasilah yang akhirnya membentuk sifat seseorang. Hal ini berkaitan dengan adanya hormon estrogen dan testosteron pada setiap individu, namun ada yang berkembang dan mendominasi , misalnya pada wanita, yang mendominasi adalah hormon estrogen, makanya wanita memiliki jakun namun tidak berkembang seperti pria, karena pertumbuhan jakun dipengaruhi oleh hormon testosteron.

Hal yang paling menarik dari para transgender ini adalah mereka tetap sadar akan kondrat mereka yang terlahir sebagai pria. Seperti kata Mbak Hera, “Ketika saya salat dan menghadap Allah, saya sadar bahwa saya adalah seorang pria. Saya tetap mengenakan sarung, bukan mukena”. Bahkan mereka menyatakan bahwa sekalipun mereka telah melakukan suntik silikon untuk payudara dan panggul, mereka tetap mempertahankan organ ‘kelaki-lakian’ mereka.
Lalu, apakah mereka yang melakukan transgender juga merupakan homo? Ya, mereka adalah homo, tapi yang paling penting untuk digarisbawahi adalah mereka tidak menyukai pria yang homo, apalagi kemayu. “Kami mencari pria-pria atletis”, ucap Mama Londoh. Ya, transgender seperti mereka bahkan memiliki selera yang sama seperti wanita ketika membicarakan pria.  

Hal inilah yang diungkapkan Profesor Koentjoro sebagai suatu keibaan hatinya, bahwa kaum yang lazim kita sebut waria ini tidak menyukai pria homo, tapi pria normal, dan mereka berbeda dengan homo. Apa bedanya? Waria, selalu merasa bahwa mereka adalah perempuan, tetapi homo, mereka tetap merasa dirinya lelaki dan dalam melakukan hubungan intim dengan pasangan, mereka mampu menjadi Top (laki-laki) dan berganti menjadi Bottom (wanita) , tapi transgender tidak. Mereka adalah homo buttom, dan nggak bisa berganti menjadi homo top.

Hal yang menyentuh hati selanjutnya adalah bahwa para transgender ini pun sebenarnya juga ingin memiliki anak, namun tidak mampu untuk mengandung sendiri. Seperti Mama Londoh, dia menganggap semua transgender adalah anaknya, dan Mbak Cyntia juga mengadopsi seorang gadis cilik. Para transgender ini pun memiliki prestasi, seperti Mbak Gita yang menjadi koreografer dan berpergian keluar negeri (saat itu dia baru kembali dari Jepang), dan Mama Londoh yang merupakan seorang duta anti HIV/AIDS.
Lalu, yang menjadi pertanyaan seorang peserta yang hadir saat seminar adalah : Apakah sifat kelaki-lakian (manly) dari mereka yang melakukan transgender itu hilang? Mama Londoh menjawab dengan gurau pertanyaan ini, “Kalau hilang ya nggak mungkin lah , Sayang, tapi memang hanya tampak kalau ada sesuatu yang mengancam kita dan sifat kewanitaan kita nggak mampu untuk menyelesaikannya. Saat itulah asli-nya kita muncul. Hahaha”

Seperti halnya dengan kita, para transgender ini pun ingin dianggap biasa dan normal. “Kita akuin kalau kita itu lebih sensitif lebih daripada wanita , kita juga agresif dan posesif. Makanya kalau ada orang yang langsung bisik-bisik sambil ngelirik kita kalau lagi lewat, meskipun bukan membicarakan kita, kita langsung merasa, dan nggak suka. Tolong bersikap biasa aja kepada kami. Kami juga nggak mengganggu atau apa kok”, ucap Mbak Cyntia, nada kepedihan terpancar dari suaranya meskipun dia berbicara dengan lantang.

Ya, memang seharusnya seperti itu kan? Kita nggak berhak langsung menjudge dan menjauhi orang hanya karena dia berbeda dari norma-norma umum, bahkan kita nggak mengenal benar orang tersebut. Bagaimanapun orang lain, mereka selalu punya alasan untuk melakukan hal yang sesuai dengan kepribadian mereka, justru kitalah yang seharusnya lebih membuka diri dan mengubah mindset kita terhadap mereka. Karena mereka bisa saja menjadi korban salah asuh ya kan ? J

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar